Kereta yang kutumpangi berhenti, aku keluar dari dalam kereta karena tempat yang kutuju sudah ada dalam pandanganku, kota besar yang terkenal lebih jahat dari pada ibu tiri ini kini akan menjadi buku diari yang siap mencatat setiap denyut dari urat nadiku. Di stasiun ini kedua mataku mulai menyisir satu persatu dari wajah yang ada, namun wajah Aris tak kunjung aku temukan.
"Apa wajah Aris masih sama yah?" aku bergumam dalam hatiku mengingat aku dan Aris sudah lama tak bertemu, sekitar 4 tahunan, dulu Aris adalah satu-satunya sahabatku di Masa putih biru disaat hampir semua orang memperlakukanku seperti alien dan hanya Arislah yang mampu menganggapku sama dengan sahabat-sahabatnya yang lain, karena sebenarnya tak ada sedikitpun yang berbeda dariku.
Aku merasakan getaran dalam kantong kemejaku ternyata hpku berdering dan nama Aris muncul di layar hpku, aku langsung mengangkat panggilannya.
"Lo dimana, No? Gue dah di stasiun nih" terdengar suara Aris dalam speaker hpku.
"Gue masih di deket rel nyariin lo!"
"Okey gue kesana sekarang, lo pake baju apa?"
"Gue pake kemeja item, lo cari aja yang paling ganteng pasti itu gue.hahah"
"hahah" belum sempat teleponnya aku putus aku melihat seseorang menghampiriku dan dari lesung pipinya aku sangat mengenalnya, dia Aris. Setelah berbincang-bincang akupun langsung dibawa Aris ke Rumahnya, dan untuk sementara aku menumpang di rumah Aris selama aku belum punya uang cukup untuk mengontrak sendiri. Aris hanya tinggal sendirian kedua orang tuanya bekerja diluar kota, satu-satunya alasan Aris tidak ikut orang tuanya karena aris sedang kuliah disini.
Sketsa cerita Cahy
Kamis, 11 Juli 2013
Hanya Satu kata 1
Sebelumnya, aku tak pernah menyangka akan menjauhi Ayah dan Ibuku diusiaku yang baru menginjak kepala dua, mengingat masa kecilku yang dulu selalu penuh dengan buaian dan perhatian dari mereka, namun kini semua kenangan itu akan terbungkus dan tersimpan dalam di dasar hatiku atau mungkin hanya akan menguap melayang terhempaskan oleh sang waktu, entahlah! Perbedaan dan ke-disabilitas-an ku yang memaksaku untuk pergi jauh meninggalkan rumah dengan alasan kerja keluar kota,sehingga kedua orang tuaku dengan mudah mengizinkanku pergi. Jujur saja setelah mereka tahu mengenai perbedaan yang ada dalam diriku sikap kedua orang tuaku menjadi sangat berubah, Apalagi Ayah terkadang sikapnya sangat kasar, sering kali aku di maki-maki, diteriaki bahkan beberapa kali aku pernah dipukul olehnya atau bersikap 180 derajat sebaliknya, Ayah tak memperhatikan bahkan tak menganggap aku ada, aku merasa benar-benar sakit karena aku harus kembali berkenalan dengan pembulian yang dulu selalu aku dapatkan ketika masih duduk dibangku SD dan SMP namun yang lebih menyakitkanku saat ini yaitu aku harus merasakan pembulian dari Ayahku sendiri, sosok yang dulu selalu membela dan melindungiku saat aku diganggu oleh anak-anak lain tapi sekarang Ayahku telah jadi bagian dari Mereka. Meski sekarang sikap Ayah seperti itu tapi Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tak mampu untuk membela diriku sendiri apalagi melawannya karena aku sadar semua itu memang salahku, kesalahan seorang anak yang telah mengecewakan harapan besar kedua orangtuanya jadi pada akhirnya aku hanya bisa pasrah dan berusaha menikmati sedikit kebahagiaan yang tersangkut dalam garis takdirku., namun hal yang paling menyakitkan dari semua itu hanyalah saat aku melihat mata sang ibu yang berusaha mengerti dan menerima keadaanku di mata itulah aku menyaksikan betapa gagalnya aku menjadi seorang anak, hingga detik ini aku masih bisa melihat dengan jelas bayanganku dimata ibu meski saat ini aku tengah berada di kereta dalam perjalananku keluar kota.Sebelumnya, aku tak pernah menyangka akan menjauhi Ayah dan Ibuku diusiaku yang baru menginjak kepala dua, mengingat masa kecilku yang dulu selalu penuh dengan buaian dan perhatian dari mereka, namun kini semua kenangan itu akan terbungkus dan tersimpan dalam di dasar hatiku atau mungkin hanya akan menguap melayang terhempaskan oleh sang waktu, entahlah! Perbedaan dan ke-disabilitas-an ku yang memaksaku untuk pergi jauh meninggalkan rumah dengan alasan kerja keluar kota,sehingga kedua orang tuaku dengan mudah mengizinkanku pergi. Jujur saja setelah mereka tahu mengenai perbedaan yang ada dalam diriku sikap kedua orang tuaku menjadi sangat berubah, Apalagi Ayah terkadang sikapnya sangat kasar, sering kali aku di maki-maki, diteriaki bahkan beberapa kali aku pernah dipukul olehnya atau bersikap 180 derajat sebaliknya, Ayah tak memperhatikan bahkan tak menganggap aku ada, aku merasa benar-benar sakit karena aku harus kembali berkenalan dengan pembulian yang dulu selalu aku dapatkan ketika masih duduk dibangku SD dan SMP namun yang lebih menyakitkanku saat ini yaitu aku harus merasakan pembulian dari Ayahku sendiri, sosok yang dulu selalu membela dan melindungiku saat aku diganggu oleh anak-anak lain tapi sekarang Ayahku telah jadi bagian dari Mereka. Meski sekarang sikap Ayah seperti itu tapi Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tak mampu untuk membela diriku sendiri apalagi melawannya karena aku sadar semua itu memang salahku, kesalahan seorang anak yang telah mengecewakan harapan besar kedua orangtuanya jadi pada akhirnya aku hanya bisa pasrah dan berusaha menikmati sedikit kebahagiaan yang tersangkut dalam garis takdirku., namun hal yang paling menyakitkan dari semua itu hanyalah saat aku melihat mata sang ibu yang berusaha mengerti dan menerima keadaanku di mata itulah aku menyaksikan betapa gagalnya aku menjadi seorang anak, hingga detik ini aku masih bisa melihat dengan jelas bayanganku dimata ibu meski saat ini aku tengah berada di kereta dalam perjalananku keluar kota.
Langganan:
Postingan (Atom)