Kamis, 11 Juli 2013

Hanya satu kata 2

Kereta yang kutumpangi berhenti, aku keluar dari dalam kereta karena tempat yang kutuju sudah ada dalam pandanganku, kota besar yang terkenal lebih jahat dari pada ibu tiri ini kini akan menjadi buku diari yang siap mencatat setiap denyut dari urat nadiku. Di stasiun ini kedua mataku mulai menyisir satu persatu dari wajah yang ada, namun wajah Aris tak kunjung aku temukan.
"Apa wajah Aris masih sama yah?" aku bergumam dalam hatiku mengingat aku dan Aris sudah lama tak bertemu, sekitar 4 tahunan, dulu Aris adalah satu-satunya sahabatku di Masa putih biru disaat hampir semua orang memperlakukanku seperti alien dan hanya Arislah yang mampu menganggapku sama dengan sahabat-sahabatnya yang lain, karena sebenarnya tak ada sedikitpun yang berbeda dariku.
Aku merasakan getaran dalam kantong kemejaku ternyata hpku berdering dan nama Aris muncul di layar hpku, aku langsung mengangkat panggilannya.
"Lo dimana, No? Gue dah di stasiun nih" terdengar suara Aris dalam speaker hpku.
"Gue masih di deket rel nyariin lo!"
"Okey gue kesana sekarang, lo pake baju apa?"
"Gue pake kemeja item, lo cari aja yang paling ganteng pasti itu gue.hahah"
"hahah" belum sempat teleponnya aku putus aku melihat seseorang menghampiriku dan dari lesung pipinya aku sangat mengenalnya, dia Aris. Setelah berbincang-bincang akupun langsung dibawa Aris ke Rumahnya, dan untuk sementara aku menumpang di rumah Aris selama aku belum punya uang cukup untuk mengontrak sendiri. Aris hanya tinggal sendirian kedua orang tuanya bekerja diluar kota, satu-satunya alasan Aris tidak ikut orang tuanya karena aris sedang kuliah disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar